Pendidikan Guru Penggerak Angkatan IV
Penulis Lampita Banjarnahor
A.Latar Belakang
Setelah mempelajari modul 1.1, 1.2, 1.3, dan 1.4 sampai saat ini saya memahami bahwa sebagai pendidik, kita diibaratkan sebagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikan tanamannya tumbuh subur. kita akan memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. kita dapat memahami bahwa sekolah diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam sehingga guru harus mengusahakan sekolah jadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid dari hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian, karakter murid tumbuh dengan baik. Sebagai contoh, murid yang tadinya malas menjadi semangat, bukan kebalikannya. Murid akan mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran bila lingkungan di sekelilingnya terasa aman dan nyaman. Selama seseorang merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi.
Budaya positif disekolah merupakan nilai, keyakinan, dan kebiasaan disekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab, kritis, inovatif. Budaya positif menuntun murid untuk berbuat hal-hal positif yang dapat membentuk karakter baik yang akhirnya murid mencapai kebahagiaan. Guru harus mengembangkan budaya positif disekolah untuk mewujudkan karakter baik sesuai dengan profil pelajar pancasila.
Sekolah- sekolah mempunyai aturan untuk semua pelanggaran yang dilakukan oleh murid. Pelanggaran yang dimaksud ada yang bersifat pelanggaran ringan dan ada yang bersifat pelanggaran berat, seperti membuang sampah di sembarang tempat, terlambat masuk kelas, tidak menggunkanan seragam sesuai aturan, membolos, merokok, perkelahian antar pelajar, penggunaan narkoba dan perundungan. Oleh karena guru dituntut untuk mampu menerapkan konsep pendidikan dan bimbingan kepada murid secara menyeluruh sampai pada pelaksanaan penerapannya di masyarakat. Seharusnya sikap disiplin muncul dari adanya rasa kepemilikan yang tinggi terhadap suatu nilai. Bila seorang siswa mempunyai rasa kepemilikan yang tinggi terhadap nilai pentingnya hidup tertib baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat, maka pada dirinya akan tumbuh sikap disiplin dalam menerapkan aturan-aturan yang berlaku di sekolah tersebut.
a. Tujuan dan Tolak Ukur
Tujuan
Tujuan
1. Murid memahami pentingnya disiplin diri dalam proses pembelajaran untuk mencapai kebahagiaan
2. Murid menghargai setiap kesempatan yang diberikan untuk belajar
3. Terciptanya murid disiplin untuk mencapai kebahagiaan
Tolak Ukur
1. Murid datang tepat waktu ke sekolah dan masuk dalam ruangan untuk mengikuti proses pembelajaran
2. Murid tidak akan bolos dari sekolah dan jam pelajaran.
a. Membuat Keyakinan Kelas
1. Berdiskusi dengan murid mengenai impian kelas yang diharapkan
2. Mencatat semua masukan murid di papan tulis
3. Meninjau kembali masukan murid untuk menyusun keyakinan kelas, bersama dengan murid menemukan nilai positif dan nilai tersebut menjadi keyakinan kelas. Dalam penentuan keyakinan kelas ini pada awalnya mereka tidak paham, mereka berpendapat bahwa itu adalah peraturan yang dibuat bersama, selanjutnya saya menjelaskan perbedaan peraturan dan keyakinan.
4. Bersama-sama meninjau ulang keyakinan kelas agar semua murid benar-benar mampu dan siap untuk melaksanakannya bersama.
5. Keyakinan kelas selanjutnya ditempel di dinding diatas kertas karton dengan kertas stik noteyang mudah dilihat semua warga sekolah.
6. Pelaksanaan keyakinan kelas, setelah disepakati maka saatnya untuk melaksanakan keyakinan kelas yang telah disepakati. Pada awal kesepakatan tidak ada yang absen, bolos dan pada akhirnya juga tidak ada murid yang absen/ bolos.
c. Melakukan Kontrol kelas
Sebelum proses pembelajaran berlangsung
saya melakukan kontrol kelas untuk melihat kehadiran murid, dan jika sebelum pembelajaran berlangsung saya berhalangan maka saya melakukan konrol kelas dalam pergantian jam pelajaran atau bahkan pulang sekolah.
d. Pengurus kelas melakukan pendataan kehadiran siswa setiap hari
Saya bekerja sama dengan pengurus kelas setiap harinya untuk mencatat kehadiran murid baik jam kesekolah dan jam pelajaran, disini akan terlihat lama waktu keterlambatan murid, mereka juga melaporkan bagimana kondisi kelas setiap harinya.
e. Pengurus kelas memberikan laporan kehadiran setiap minggu
Pengurus kelas setiap hari senin memberikan laporan data kehadiran dan kondisi kelas, kami terelbih dahulu sudah menyepakati waktu penyerahan/pelaporan pengurus kelas, disana juga kami melakukan diskusi apa yang menyebabkan murid tersebut terlambat atau tidak sekolah.
f. Kolaborasi dengan guru BK, Kesiswaan dan guru bidang studi
Sebagai rekan dalam proses pembelajaran disekolah saya melakukan kolaborasi dengan guru BK, bagian kesiswaan dan guru bidang studi bersama-sama berdiskusi penyebab anak tidak sekolah/bolos bahkan bolos pada saat jam pelajaran tertentu, kita berupaya mencari solusi dari masalah yang terjadi sehingga kami mengharapkan budaya positif dalam hak kehadiran yang akhirnya nanti murid mencapai kebahagiaan
Pada saat pelaporan saya mendapatkan murid ada yang tidak sekolah, hal yang saya lakukan adalah melakukan restitusi untuk mengetahui apa yang menyebabkan murid tidak sekolah, alasan yang murid berikan, setelah itu saya mengingatkan pada murid tersebut bahwa sangat penting untuk mengikuti keyakinan untuk dirinya sendiri pada saat ini dan yang akan datang. Murid sangat senang dan tidak menjadi sebuah tekanan karena murid tidak saya marahi, ingatkan didepan urid yang lain dan saya selalu memberikan motivasi hidup agar kelak mereka mencapai kebahagiaan yang mereka impikan.
h. Evaluasi Restitusi
Evaluasi dari pelaksanaan pembuatan keyakinan kelas adalah pada saat membuat keyakinan kelas tidak langsung menentukan konseskuensi bagi yang melanggar keyakinan kelas, pada saat hal tersebut terjadi baru diberikan peringatan dan masalah keyakinan kelas ini belum semua kelas melakukannya kiranya kedepan bisa kami imbaskan kesemua kelas sebagai guru penggerak yang langsung berkolaborasi dengan warga sekolah
C. Kesimpulan
Budaya positif harus dilaksanakan dan dikembangkan di sekolah supaya anak dapat memahami dirinya dan orang lain, bersama-sama membuat keyakinan kelas agar semua dapat memahami dan melaksanakan dalam proses pembelajaran, semua warga sekolah harus saling bekerjasama dalam melaksanakan budaya positif agar terwujud impian dan kebahagiaan bersama.
Demikianlah paparan yang bisa saya tuliskan, semoga bermanfaat salam bahagia salam guru penggerak.
Ya Bu, sama-sama berusaha untuk memulai membuat perubahan dengan keyakinan kelas dan menerapkan pendekatan inkuiri apresiatif dalam menjalin hubungan dengan komunitas sekolah berfokus kepada hal positif dalam diri tiap individu sehingga terjalin hubungan harmonis dan komunikasi yang baik serta menerapkan segitiga restitusi dalam menyelesaikan masalah yang ada di sekolah dengan posisi manajer.
BalasHapusdengan usaha dan kolaborasi semua pasti dapat dilakukan
BalasHapus